//Melipat Bacaan, Melihat Peristiwa

Melipat Bacaan, Melihat Peristiwa

Oleh Edy Setiawan

Perkenalkan, saya Jom, begitu teman-teman memanggil saya. Saya keturunan H. Sapiens (baca: Homo Sapiens, bukan Haji Sapiens, ya), lelaki berumur 27 tahun, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Kutu Buku, korban laka lantas, eh, salah, laka cinta, dan sedang dalam masa perawatan. Oiya, juga dengan sedikit penyakit hati, sirik dan nyinyir pada semua orang yang melintas dalam posisi bergandengan tangan. Termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini sambil WhatsApp-in si Anu.

Saat ini saya sedang di kafe tempat saya biasanya membaca buku-buku kiri, salah satunya adalah buku Thomas More tahun 1516 yang berjudul Utopia. Hari ini adalah hari ke 62 setelah saya kembali memutuskan untuk melanjutkan membaca buku ini, pasalnya, saya pernah merasa tersinggung dengan kata-kata penulisnya. Ditulisnya begini  “(How can anyone) be silly enough to think himself better than other people, because his clothes are made of finer woolen thread than theirs. After all, those fine clothes were once worn by a sheep, and they never turned it into anything better than a sheep. Kira-kira artinya begini, “bagaimana mungkin ada orang yang cukup bodoh untuk menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain karena pakaiannya terbuat dari benang wol yang lebih halus daripada milik mereka. Lagipula, pakaian bagus itu pernah dipakai oleh domba, dan mereka tidak pernah mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik daripada domba”. Sebagai pengagum fashion dari brand ternama, tentu ini memang sindiran yang sangat halus. Namun hari ini saya diputuskan, eh, salah, memutuskan kembali kepadanya, maksud saya adalah kembali membaca buku ini. Kusibak kembali halaman demi halaman buku ini, kembali padanya setelah jeda ketersingungan. Bagi saya, cukup mudah untuk menemukan penanda bacaan terakhir saya di buku ini, saya menandainya dengan pembatas buku paling awet, tak mudah hilang dan jatuh, pembatas buku dari lipatan segi tiga di sudut kanan atas.

Seperti biasa, sebelum melanjutkan bacaan, ritual awal yang sakral adalah menyeruput kopi, menyulut rokok dan mulai menjelma menjadi filsuf jadi-jadian. Bukannya melanjutkan bacaan, saya malah memaknai lipatan segi tiga (pembatas buku) yang menjadi batas antara halaman 131 dan 133. Batas yang berisi jeda 62 hari saat bacaan ini berhenti hingga saat saya kembali membacanya, juga batas ketidakmengertian antara saya dan penulis buku ini. Saya terjebak pada segi tiga pembatas buku ini, pembatas buku tradisional, banyak dipakai kaum konservatif dan millenial diberbagai penjuru dunia dan tak mengeluarkan biaya. Tentang konsepsi ini, saya akan paparkan secara bertahap sebagai berikut. (Mode: baca serius)

“teori segitiga perdamaian, segitiga ini melibatkan 3 komponen dasar, yakni buku, kopi dan rokok.”

Pertama, teori segitiga perdamaian, segitiga ini melibatkan 3 komponen dasar, yakni buku, kopi dan rokok. Bagi saya yang pernah menjadi korban laka cinta tabrak lari dan dicampakkan di tepi jalan, penghormatan untuk kesetiaan saat ini hanya patut saya berikan untuk kopi dan rokok saja. Menurut saya, keduanya layak menjadi pemenang nobel perdamaian atau penerima piagam perdamaian PBB. Saya haqqul yakin. Jadi Anda tidak perlu tegang jika bertemu makluk seperti saya. Kombinasi antara buku, caffein dan nikotin tidak akan membuat saya menjadi begal. Buku yang penuh nasihat bijaksana, kopi yang kaya dengan caffein, dan sebatang rokok dengan nikotin 2,3 mg  cukup membuat saya sabar, ikhlas terhadap siapapun yang menyakiti, termasuk sakit hati dari si Kampr*t itu (kampret adalah sejenis polisi tidur yang bisa tiba-tiba muncul tanpa permisi dan merusak suasana hati saat sedang melaju menuju lamaran).

Teori kedua, teori segitiga bermuda, pola lipatan segitiga pembatas buku ini mengingatkan saya tentang teori konspirasi bavaria illuminati. Teori konspirasi di sini adalah segitiga bermuda, segitiga bagi anak-anak muda. Antara si A, B dan si C. Sebagian orang yang sedang falling in love biasanya fokus pandangnya hanya pada sisi terang, hubungan titik antara A dan B saja, padahal pada sisi gelap terdapat kampr*t, eh, si C yang mengintai. Ini yang paling sering luput dari pengamatan kaum millenial. Para filsuf pembatas buku telah jauh hari  mengingatkan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa ini, “kelak, akan ada masa di mana seseorang yang menjaga dan merawat penuh perhatian dan yang mengantar pulang pergi selama bertahun-tahun akan berakhir hanya menjadi tamu undangan”.

Teori terakhir, yaitu teori segitiga akut. Homo Sapiens dari ras jombloensis primitif tipe penjelajah yang zat penyusun komponennya dominan tersusun dari rumus segitiga akut yakni  perut lapar, dompet kosong dan patah hati. Jenis ini banyak tersebar di Asia, khususnya Celebes bagian selatan sebagai dampak prahara badai el nino, eh salah, badai panaik (panaik: biaya sewa gedung dan pesta pernikahan tempat deklarasi kemapanan dan pelepasan kejomloan). Olehnya itu, sebagai spesies yang lain dari biasanya, mereka punya daya tahan hidup dan banyak berperan dalam diaspora ke berbagai penjuru dunia (baca: lari dari kenyataan). Kondisi ini menjadi pemicu keberhasilan di segala bidang di negeri pelarian. Bagi sebagian spesies ini, yang berhasil melalui seleksi alam badai panaik dan pulang kampung, biasanya dapat dikategorikan sebagai sapiens ras millenial kategori beruntung, karena telah berhasil membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Dari tiga teori segitiga yang lahir dalam kajian pembatas buku kali ini, maka dapat disimpulkan begini: Pada teori pertama, segitiga perdamaian, mari kita hayati pasal larangan berikut dari sang penulis. Begini katanya “jangan menulis tanpa spasi, jangan minum secangkir kopi dengan sekali teguk, dan jangan menghabiskan rokok dengan sekali isapan, sebab di situ ada jeda yang terlewatkan. Adapun kaitannya dengan teori kedua, yakni teori segitiga bermuda, jeda itu ibarat si C yang mengintai dari balik kegelapan saat Anda lengah karena terlalu dimabuk cinta. Jadi tetaplah waspada, Kawan, bahkan saat kamu sedang dipuncak bahagia. Seperti adagium para guru filsuf, “yang paling dekat dari setiap ketinggian adalah kejatuhan, yang paling dekat dari kebahagiaan adalah kedukaan, dan yang paling dekat dengan lamaran adalah si C (baca: Kampr*t). Adapun teori terakhir yaitu teori segitiga akut adalah sebuah dampak dari mengabaikan tulisan ini, mungkin sejenis malin kundang modern yang suka mengabaikan jeda, lupa pamali orang tua, dan lupa dengan “jeda” yang ditimbulkan pembatas buku. Bukankah ada banyak kebijaksanaan dalam setiap jeda? Bukankah begitu, Jom? Tanya saya kepada diri sendiri.

29 Okt 2019